Kerja? Kan Masih Kuliah!

"Jangan jadi pegawai Negeri, jadilah majikan atas dirimu sendiri. Jangan makan keringat orang lain, makanlah keringatmu sendiri. Dan itu dibuktikan dengan kerja." 
-Pramoedya Ananta Toer 


"Kerja? Kan masih kuliah!"

Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan padaku. Duh, antara malu dan geli sendiri.
Iya betul, aku mendua dari tugas utama sebagai mahasiswa. Orang tua juga sedikit sebal, mereka masih mampu nanggung kalau cuma ingin tambahan uang jajan katanya.
Tapi sayangnya bukan itu yang aku butuhkan.
Iya, butuh.

Dimulai dari kesadaran kalau sistem pendidikan kita kalah jauh dari negeri tetangga. Singapura sebagai contoh, memiliki visi pendidikan ”First World Economy, World Class Home” yang bertujuan membentuk masyarakat Singapura yang berbudaya tinggi dalam hal etika, disiplin dan perilaku sosial sehari-hari, serta mengembangkan kreativitas anak didik, khususnya di bidang teknologi informasi. Tidak beda jauh dengan visi pendidikan nasional Indonesia yang berdasar UUD 1945 dan Pancasila. Bedanya, Menkominfo kita malah bertanya "Kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?". Kalau anak SMP di singapura sudah bisa buat program komputer sederhana, anak SMP di Indonesia baru belajar Ms. Excel. Sedangkan, dunia sudah sampai di masa konsumsi tinggi, yang oleh Rostow tahap ini ditandai dengan perhatian masyarakat yang lebih menekankan pada masalah-masalah konsumsi dan kesejahteraan, dan bukan lagi pada produksi sehingga coraknya lebih konsumtif. Dunia menuntut seseorang untuk menguasai sistem informasi dan teknologi agar mampu bersaing di dunia ekonomi. Indonesia di lain pihak, minim menggunakan sistem informasi dan teknologi di jenjang pendidikan yang notabene merupakan pijakan pertama seseorang dalam mempersiapkan masa depan. Sistem pendidikan kita mencetak tenaga siap pakai, bukan tenaga berkualitas tinggi. Tak heran jika banyak jembatan atau gedung perkantoran, dan bahkan perfilman memakai jasa orang asing.

Lalu bagaimana nasib kita nanti pada perdagangan bebas 2015? Ombak tenaga kerja dan produksi dari seluruh penjuru ASEAN merayap masuk seenaknya. Untuk para skilled profession dan bisnis kecil-menengah tentu hal ini membuat risau. Ada contoh kecil dari sektor ritel; jika di luar negeri cukup 4-5 orang yang bertanggung jawab di satu lantai, di Indonesia membutuhkan minimal 10 orang. Artinya, satu pekerja di luar negeri dibebani tanggung jawab yang lebih banyak sehingga menekan ongkos produksi. Dengan tanggung jawab yang lebih banyak, skill yang dipunya tentu akan terus bertambah. Di Indonesia? mungkin saja ini hanya perkara lebih banyak mulut yang harus diberi makan.  

Aku tentu saja, calon sarjana sastra, sudah khawatir sekali. Ditambah tidak ada niatan untuk mencari pekerjaan dari sektor akademis. Aku tentu saja harus membuat banyak pilihan dengan belajar dan membangun jaringan tidak hanya dari bangku kuliah. Kesempatan jarang datang dua kali, kalau kamu bisa lakukan sekarang, kenapa harus menunggu?

Perkara kuliah, it simply you gotta finish whatever you start :)

If you wanna survive, you simply gotta be more than good. Best luck!

2 comments:

Post a Comment